Monday, June 28, 2010

Code Dreamer

Foto ini kupersembahkan untuk saudara - saudariku di bantaran kali Code, serta sekawanan hewan ternak mereka.


Antara rumah susun dan rumah reot, kali dan parit, beton dan pasir, ingus dan semerbak bau parfum menyengat. Kau aliri ini dengan air yang melimpah, untuk menghidupi kami. Kau bangun ini untuk kami tinggali. Dan ketika puluhan tahun sudah kami ada, sosialisasi di antara kami pun semakin terpisahkan oleh jurang modernisme yang sulit untuk kami lompati dengan kaki lemah bak pipa rapuh pabrik gula tradisional yang termakan rayap ini. Konfrontasi atas nama keserakahan dan arogansi. Dan demi tercapainya kemerdekaan diri sendiri, kami bersumpah kepada bumi dan langit, sampai telak kami mengering kami tidak akan lelah untuk menyuarakan rintihan diskriminasi tanpa sebab yang kami alami. Sekarang, hanya tinggal menyisakan cerita yang terdistorsi tak beraturan, kian lama kian entah kemana.

Pemutihan adalah misi sederhana kami, dan pemutihan adalah visi kalian, wahai para penghuni istana megah bertahtakan matahari. Ketika kawan kami telah mendapatkan haknya secara instan dan gratis, kami masih harus menunggu lama dan serba tak pasti untuk kegratisan dan kepraktisan itu. Mudah, tinggal bayar sejuta’an rupiah, kami sudah mendapatkan apa yang kawan kami dapatkan itu sekarang juga. Tapi apa daya untuk makan dan menambal sepeda onthel pun kami sulit, apalagi membayar segitu hanya untuk pemutihan yang sudah dijanjikan gratis oleh para petinggi – petinggi nun jauh di sana, tapi tak kunjung juga kami rasakan, hanyalah ludah kental penuh kuning nikotin mereka yang dapat kami rasakan sampai saat ini.


Akta tanah kami yang masih bertuliskan aksara jawa ini telah berumur lebih dari umur bapak kami. Mungkin ketika cucu kami besok mencarinya dibawah kolong tempat tidur untuk diputihkan, akta itu sudah menjadi abu berikut jasad rayap – rayap pemakan kertas. Dan kami mohon wahai para penguasa, kami disini tidak untuk didengar, tapi kami disini untuk dilihat. Memaksa mata kalian untuk melihat dari setiap sudut kesakitan ini.
Bahkan rumah susun yang kalian bangun untuk kami tinggali bersama – sama dengan kawan kami itu tidak kami pakai. Kami memilih untuk tinggal di dalam rumah reot kami masing – masing. Ya, pastinya dengan sangat terpaksa kami melakukan itu, untuk membuka hati kalian tentang isi gumpalan kekecewaan kami selama ini. Kami hanya menuntut keadilan dan kesetaraan, bukan kenyamanan. Dan dengan enaknya dan tanpa rasa sungkan kawan kami tidur pulas di ruang – ruang nyaman rumah susun itu.
Tapi yasudahlah, biarkan aku memancing ikan di sungaiku ini. Biarkan anak – anakku bermain di sungaiku ini. Biarkan hewan – hewan ternakku mandi di sungaiku ini. Hanya rutinitas sederhana inilah yang membuatku tetap senang tinggal di bantaran kali Code ini.

Kami disini juga masih bisa tersenyum.
Beginipun sudah indah, apalagi.

























Wednesday, June 23, 2010

Trans Gudeg

Finally I could experience the trans-busway as well, but this is Jogja-bus-style. Yes, this bus called Trans Jogja. Same with the Trans Jakarta, this bus has a special line in operation, and have shelter in some places for stops and transit passengers.

I have very often go to jogja, whether it's just refreshing, or there is a specific purpose. But only this time I boarded the Trans Jogja bus. First, I departed from Malioboro shelter. I have not and never set destination, just let the bus flow away.